Menangkal Investasi Bodong

Menangkal Investasi Bodong

JAKARTA – Maraknya korban investasi bodong membuat gerah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Banyak sekali pengaduan masyarakat ke lembaga ini terkait tipu daya perusahaan investasi abal-abal.

Data OJK menyebutkan pada 2014 saja ada 262 perusahaan terindikasi melakukan praktik curang. Angka tersebut bahkan naik menjadi 406 pada Tahun Kera Api ini. Angka tersebut tentulah sangat mengkhawatirkan. Bisa dibayangkan, berapa banyak korban tertipu rayuan perusahaan investasi bermasalah tersebut.

Berjatuhannya korban investasi bodong mencerminkan rendahnya literasi keuangan masyarakat kita. Keinginan untuk cepat kaya tanpa kerja keras cenderung menjadi falsafah hidup sebagian masyarakat. Sikap serakah yang mengharapkan untung besar dalam waktu singkat selalu menjadi sasaran empuk bagi para penipu yang membungkus aksi kejahatannya dengan embel-embel investasi.

Tawaran investasi dengan imbal hasil menggiurkan acap kali diterima begitu saja tanpa kalkulasi matang. Alih-alih memperoleh keuntungan, kerugian besar diderita masyarakat gagap investasi. Masyarakat awam menganggap ilmu berinvestasi hanya dipelajari ketika kuliah di kampus.

Padahal, melek investasi sejatinya wajib dipahami siapa pun tanpa membedakan latar belakang pendidikan. Masyarakat belum menyadari bahwa literasi keuangan adalah kecakapan hidup. Karena itu, penting bekali kecakapan hidup yang satu ini kepada anak sejak usia belia.

Sayangnya, kurikulum pendidikan dasar dan menengah masih enggan menyertakan pemahaman tentang seluk-beluk keuangan dengan beragam alasan.

 

Bijak Berinvestasi

Dalam literatur keuangan, investasi merupakan kegiatan menanamkan uang untuk tujuan memperoleh keuntungan pada masa depan. Rumus sederhana investasi adalah imbal hasil tinggi risiko tinggi. Prinsip ini harus dipahami setiap orang dalam berinvestasi.

Artinya, masyarakat seyogianya paham bahwa mengharapkan imbal hasil investasi tinggi harus siap menerima kadar risiko tinggi pula. Bermain saham misalnya tergolong pada kategori ini. Calon investor harus mengukur tingkat kesiapan diri dalam menanggung risiko tinggi. Fluktuasi harga saham bisa membuat copot jantung bagi mereka yang tidak siap menghadapi naik turun nilai saham yang dimiliki.

Formula berikutnya yaitu imbal hasil sedang risiko sedang. Instrumen investasi model ini misalnya unit link. Investasi kolektif ini cenderung menyebarkan risiko ke berbagai instrumen seperti saham, deposito, dan obligasi pemerintah.

Prinsip jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang mendasari strategi investasi unit link . Instrumen demikian cocok bagi mereka yang sanggup menerima risiko sedang. Rumus terakhir yaitu imbal hasil rendah sebanding dengan risiko rendah.

Rumus ini penting bagi investor pemula. Manakala kita hanya ingin berinvestasi aman, menyimpan uang dalam bentuk deposito, membeli emas merupakan instrumen investasi berisiko rendah. Instrumen investasi seperti ini cocok bagi mereka yang masih mempertimbangkan pentingnya likuiditas.

Artinya, suatu saat diperlukan, dapat dijual atau dilepas untuk memperoleh uang segera. Selain itu, masyarakat awam juga perlu memahami berbagai prinsip investasi. Pertama, memahami tujuan investasi. Tujuan investasi menjadi penting sebagai dasar menentukan strategi investasi. Kedua, memahami horizon waktu.

Bila telah menentukan horizon waktu, pilihlah instrumen sesuai horizon waktu yang diinginkan. Ketiga, mengenali karakter diri dalam berinvestasi. Setiap orang memiliki karakter sendiri dalam berinvestasi. Bagi mereka yang tidak berani menanggung risiko tinggi, tentu tidak akan memilih investasi saham dan pasar mata uang (forex).

Dua instrumen tersebut berisiko tinggi. Keempat, memahami beragam instrumen investasi. Kenali dan cermati dengan baik kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ini penting agar terhindar dari tawaran investasi yang tidak masuk akal.

 

sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *