Kilau Emas Makin Meredup

Kilau Emas Makin Meredup

JAKARTA. Proyeksi kenaikan permintaan di masa datang gagal jadi pendongkrak harga jual emas. Sebaliknya, prospek kenaikan suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang terus menggerus harga si kuning menyala.

Data Bloomberg, selasa (6/12), pukul 16.25 WIB, menunjukkan, harga emas kontrak pengiriman Februari 2017 di Commodity Exchange terkikis 0,24% jadi US$ 1.173,70 per ons troi dibanding hari sebelumnya. Alhasil, dalam sepekan terakhir harga emas sudah menukik 1,43%.

Tonny Mariano, Analis PT Esandar Arthamas Berjangka, mengungkapkan, nyaris tak ada faktor pendukung harga emas. Di saat bersamaan, indeks USD menguat hingga ke 100,11 membebani harga emas. “Fokus pasar tertuju ke The Fed, data-data AS pun mendukung,” kata dia.

Referendum Italia yang menghasilkan penolakan dan desakan warga negeri piza untuk segera melakukan perubahan konstitusional ternyata juga tidak banyak berpengaruh ke harga emas. “Emas kalah pamor karena tidak punya imbal hasil yang menjanjikan seperti saham atau valuta asing,” ungkap Tonny.

Buntutnya, harga emas hari ini berpotensi turun lagi. Mengingat, data pemesanan pabrikan AS November 2016 diduga tumbuh jadi 2,5% dari sebelumnya hanya 0,3%. Tapi, pelemahannya terbatas karena defisit neraca perdagangan AS diprediksi melebar.

Di sisi lain, laporan kepemilikan aset emas di Exchange Traded Funds (ETF) turun selama 16 hari berturut-turut hingga Jumat (2/12). Selama periode itu, penurunannya mencapai 2,2 metrik ton.

 

Instrumen syariah

Kabar baiknya, Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions, lembaga pembentuk standar keuangan bersistem syariah, bersama World Gold Council meresmikan emas sebagai instrumen investasi legal di sistem keuangan syariah.

Stempel itu, menurut Suluh Adil Wicaksono, Analis PT Cerdas Indonesia Berjangka, memberikan harapan adanya kenaikan permintaan emas dari bank-bank sentral di masa mendatang. “Hanya saja, ini masih prediksi dan euforia sesaat,” ujar Suluh.

Maklum, kenaikan permintaan emas belum akan terlihat dalam waktu dekat. Makanya, harga emas masih akan tertekan isu kenaikan suku bunga The Fed yang sudah di depan mata. “Menjelang FOMC pekan depan, pergerakan emas di rentang sempit dan konsolidasi,” ungkap Suluh.

Namun pasca kenaikan suku bunga The Fed, harga emas berpotensi memperbaiki posisinya di akhir tahun, setidaknya mengejar US$ 1.180–US$ 1.200 per ons troi. Tonny juga bilang, kecil peluang emas kembali ke level US$ 1.250 per ons troi di akhir tahun. Tekanan turun akan lebih mendominasi.

Secara teknikal, Tonny menjelaskan, harga emas bergerak di bawah moving average (MA) 50 dan 100 yang mengindikasikan penurunan lanjutan. Lalu, MACD di area minus 2,531 berpola downtrend. Tapi, stochastic level 28,77 dan RS) 29,88 keduanya sudah menyentuh area oversold dan bisa memicu rebound jangka pendek.

Tonny menduga, harga emas Rabu (7/12) bergerak di kisaran US$ 1.163,30–US$ 1.183 dan sepekan US$ 1.150–US$ 1.190. Suluh menebak hari ini antara US$ 1.160–US$ 1.180 dan sepekan US$ 1.158– US$ 1.185 per ons troi.

 

sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *